benuakaltim.co.id, BERAU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau mengeluarkan peringatan serius terkait potensi bencana kekeringan parah dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Wilayah Berau saat ini tidak hanya memasuki puncak musim kemarau, tetapi juga diterjang gangguan fenomena iklim global El Nino dengan intensitas kuat yang berpotensi memburuk.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino yang melanda wilayahnya diproyeksikan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang.
“Kondisi saat ini El Nino berada dalam kategori kuat dan diprediksi akan berubah menjadi sangat kuat. Hal ini membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering dari kondisi normalnya. El Nino diprediksi berlangsung sampai awal tahun 2027,” kata Ade Heryadi kepada wartawan Sabtu (15/8/2026).
Dampak dari cuaca ekstrem dan kemarau kering ini mulai terlihat dari lonjakan signifikan titik panas (hotspot). BMKG mencatat lonjakan tajam pemantauan titik panas dalam waktu singkat.
• Total Hotspot: 262 titik (per 14 Agustus)
• Sebaran: Terdeteksi di 11 kecamatan se-Kabupaten Berau
• Konsentrasi Terbanyak: Kecamatan Pulau Derawan dan Kecamatan Segah
Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra mengingat Pulau Derawan merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan yang ada di Kalimantan Timur.
Mengantisipasi eskalasi Karhutla yang kian membesar, BMKG bersama pemerintah daerah mulai merancang langkah darurat, salah satunya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan.
Ade menjelaskan bahwa OMC baru dapat dieksekusi setelah ada pengajuan resmi dari daerah yang terdampak.
Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau tengah menyusun laporan tersebut untuk diusulkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“BMKG bertindak sebagai supervisor dalam kegiatan OMC ini. Kami di Stasiun Meteorologi Kelas 2 Kalimarau siap memberikan data dukung penuh, baik berupa analisis kondisi atmosfer secara umum maupun analisis potensi awan hujan di wilayah Berau dalam beberapa hari ke depan,” tegas Ade.
Guna mencegah munculnya bencana kabut asap yang dapat melumpuhkan aktivitas masyarakat dan penerbangan, BMKG Berau menyampaikan tiga poin imbauan krusial kepada seluruh elemen masyarakat dan pihak swasta
“Seluruh pihak diimbau bertanggung jawab menjaga kondisi kekeringan ini agar tidak memicu bencana asap. Dilarang keras melakukan pembakaran lahan atau aktivitas apa pun yang berpotensi memicu Karhutla,” bebernya.
Kata dia masyarakat diminta segera melapor kepada aparat berwenang (TNI Polri BPBD) jika melihat ada indikasi atau potensi titik api.
“Bekerja sama secara aktif dengan petugas di lapangan dalam upaya pemadaman dan penanggulangan kebakaran,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Ramli






