benuakaltim.co.id, BERAU – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite hingga Pertamax melanda wilayah Kabupaten Berau. Kondisi ini memicu antrean kendaraan yang mengular panjang di sejumlah SPBU serta pemandangan tak biasa di kios-kios pom mini sejak Ahad malam hingga Rabu (2/9/2026) pagi tadi.
Di SPBU Bujangga misalnya, antrean kendaraan meluber hingga menembus kawasan Pesantren Hidayatullah. Kelangkaan di SPBU diperparah dengan kosongnya pasokan BBM di tingkat pedagang eceran.
Salah seorang pengendara pengguna Pertamax, Emma, mengeluhkan sulitnya memburu BBM sejak semalam. Ia bahkan terkejut melihat warga sampai harus mengantre panjang di pom mini yang biasanya sepi pengunjung.
“Iya, kenapa lah bisa susah dicari. Saya tadi lihat di Jalan Merah Delima orang antre di pom mini,” keluhnya.
Kondisi serupa dirasakan Rahmah, warga Trans Bangun Sambaliung pengguna Pertalite.
Ia mengaku kebingungan untuk berangkat kerja akibat indikator bensin di sepeda motornya sudah berada di batas minimal.
“Kedip-kedip (penanda bensin di motor) sudah, gimana berangkat kerja, di lain (SPBU) di mana ya. Sampai sore siang itu, saya turun jam 1 mudahan sudah sepi,” ungkap Rahmah yang berencana mengantre di SPBU Sambaliung atau SPBU H Isa.
Warga lainnya yang enggan disebutkan namanya mengaku telah menyisir pedagang eceran dari Jalan Durian 3 hingga Jalan Durian 1 tanpa hasil. Ia terpaksa terus memburu bensin eceran demi menghindari keterlambatan masuk kerja akibat antrean SPBU yang mengular.
Krisis BBM ini juga memicu gejolak di media sosial. Warga mendesak pihak berwenang menindak tegas para pengetap bensin yang dinilai menjadi pemicu utama kelangkaan dan membubungnya harga.
Salah seorang netizen dengan akun Instagram @k1kii_88 menyoroti tidak seimbangnya antara tingginya permintaan dan pasokan BBM harian, serta menduga adanya praktik kecurangan di lapangan.
“Pengetap banyak, lihat aja di pertamini, warung jual bensin kesempatan bisa naikin harga saat ini, ada kerja sama petugas SPBU untuk memborong sangat banyak,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






