Kasus ISPA di Berau Melonjak 3 Kali Lipat

KUNKER: Wabup Berau, Gamalis saat melakukan kunjungan kerja ke Puskesmas untuk memastikan kasus ISPA. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mengalami lonjakan drastis hingga tiga kali lipat sejak bulan Juni hingga awal September. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah tersebut ditenggarai menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyampaikan kekhawatirannya saat melakukan peninjauan langsung terkait dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, fokus pemerintah yang selama ini tercurah pada pemadaman api tidak boleh mengabaikan dampak kesehatan yang mengintai warga.

“Selama ini kita lagi sibuk dengan kondisi kebakaran, karhutla. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu efek dari kebakaran tersebut,” ujar Gamalis, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga :  Pemkab Berau Perketat Pengawasan SPBU, Tekan Panic Buying dan Pengetapan BBM

Gamalis mengungkapkan, lonjakan kasus ISPA di daerahnya bergerak sangat cepat. Penyakit saluran pernapasan tersebut kini menduduki peringkat kedua penyakit terbanyak di Berau, tepat di bawah hipertensi.

“ISPA ini yang tadinya berada di 10 besar, di ranking ke-9 atau ke-8, hari ini sudah naik ke ranking kedua setelah hipertensi. Perkembangannya dari bulan Juni, Juli, Agustus, sampai September awal hari ini sudah melipat tiga dari jumlah ISPA selama ini,” tegas Gamalis.

Baca Juga :  Darurat Karhutla, Wisata Air Terjun Tembalang dan Bukit Mincau Ditutup Sementara

Hal yang paling mengejutkan dalam peninjauan tersebut adalah ditemukannya konsentrasi partikel berbahaya yang sangat tinggi, bahkan di dalam ruangan tertutup sekalipun. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar PM2.5 (partikulat halus) dan PM10 di dalam ruangan telah melebihi ambang batas normal hingga hampir tiga kali lipat.

“Ternyata memang betul, pengukuran di dalam ruangan P2.5-nya (PM2.5) sudah di atas rata-rata, hampir tiga kali lipat hasil pengukuran tadi. PM2.5 itu adalah partikel yang masuk ke dalam hidung yang tidak bisa disaring oleh bulu hidung, dia langsung ke paru-paru. Ini padahal di dalam ruangan, belum di luar ruangan,” jelas Gamalis.

Baca Juga :  Tabligh Akbar Batal, PGRI Berau Alihkan Agenda Jadi Salat Istisqa

Kondisi kualitas udara yang kian memburuk ini memicu perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Berau dan Dinas Kesehatan setempat. Pemkab Berau mengimbau masyarakat untuk segera mengambil langkah antisipasi, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan serta mengantisipasi dampak buruk dari paparan asap karhutla yang kian mengancam kesehatan. (*)

Reporter: Georgie

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha