Peningkatan Suhu Ganggu Produktivitas Budidaya Air Payau di Berau

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono. (ISTIMEWA)

benuakaltim.co.id, BERAU — Fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla dilaporkan mulai memicu dampak signifikan terhadap sektor perikanan di Kabupaten Berau. Peningkatan suhu udara yang drastis berdampak langsung pada kenaikan salinitas air, sehingga mengganggu produktivitas budidaya air payau di wilayah tersebut.

Menyikapi situasi ini, Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono, mengungkapkan pihaknya bergerak cepat mengantisipasi potensi penurunan produksi perikanan akibat perubahan iklim tersebut.

“Fenomena El Nino ini memang secara umum membuat budidaya air payau agak terkendala dari sisi peningkatan suhu yang memicu naiknya salinitas. Karena itu, kami mengupayakan percepatan kegiatan budidaya rumput laut untuk menopang peningkatan produksi secara keseluruhan,” ujar Budiono, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga :  Tabligh Akbar Batal, PGRI Berau Alihkan Agenda Jadi Salat Istisqa

Budiono menjelaskan, budidaya rumput laut dipilih sebagai strategi andalan karena komoditas ini dinilai memiliki daya tahan yang jauh lebih baik terhadap fluktuasi salinitas dibandingkan komoditas lain seperti udang windu atau ikan bandeng. Langkah ini diharapkan dapat menjaga agar target produksi perikanan Kabupaten Berau secara general tetap tercapai.

Meskipun demikian, Dinas Perikanan Kabupaten Berau tidak meniadakan sektor budidaya lainnya. Pembinaan, peningkatan kapasitas, hingga kolaborasi kemitraan dengan pihak terkait terus dijalankan.

Baca Juga :  Dinas Perikanan Berau Pacu Persiapan Dokumen Penilaian Arindama Kaltim

Saat ini, hasil panen pembudidaya payau yang biasanya mampu mencapai 500 hingga 800 kilogram memang terpaksa berada di bawah angka tersebut akibat penyesuaian kondisi alam. Untuk mengatasi masalah penurunan hasil panen ini, Dinas Perikanan menggandeng sejumlah mitra pembangunan seperti Yekan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kami dukung dengan kemitraan, seperti pembuatan probiotik untuk meningkatkan unsur hara, serta menggelar sekolah lapang bersama BMKG untuk membaca kecenderungan perubahan iklim,” jelas Budiono.

Program sekolah lapang dan percontohan (demplot) ini difokuskan pada tiga kampung target, yakni Suaran, Tabalar Muara, dan Pegat Bukur. Melalui pendampingan teknik budidaya, rehabilitasi mangrove, serta perlakuan khusus probiotik, produksi budidaya ditargetkan mampu meningkat 10 hingga 20 persen.

Baca Juga :  Pembangunan Sekolah di Kampung Birang Terus Dikebut, Tiga Ruang Kelas Telah Rampung

Terkait rantai pemasaran, Budiono memastikan para pembudidaya tidak perlu khawatir. Permintaan pasar untuk komoditas seperti udang masih sangat tinggi.

Hasil panen dipasok ke beberapa penampung di Berau untuk didistribusikan antar daerah ke Balikpapan, Tarakan, hingga Surabaya sebelum akhirnya diekspor ke mancanegara. (*)

Reporter: Georgie

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha