benuakaltim.co.id, BERAU –Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau kian mencekam hingga memaksa Pemkab Berau melayangkan permintaan darurat kepada Kepala BNPB dan BRIN.
Menjawab permintaan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) demi memancing hujan buatan di atas langit Berau.
Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Tono Sumarsono, menegaskan penanganan karhutla yang kian parah ini butuh aksi cepat lintas sektor untuk menyelamatkan daerah tersebut.
“Operasi ini merupakan tindak lanjut permintaan Pemkab Berau. Kami hadir mendukung daerah karena penanganan karhutla membutuhkan kerja sama semua pihak,” tegas Tono di posko operasional, Selasa (25/8/2026).
Tak main-main, armada udara Cessna Grand Caravan 208B yang sebelumnya memadamkan api di Kalimantan Selatan kini langsung diterbangkan ke Berau. Sebanyak 10 ton garam penyemai awan pun digelontorkan dari Jakarta via Balikpapan, di mana pesawat sanggup mengangkut 1 ton bahan semai dalam sekali mengudara.
Tim di lapangan bahkan tak membatasi jumlah penerbangan dan siap melancarkan 4 hingga 5 sortie per hari demi mengguyur titik api.
“Jika radar dan analisis meteorologi menunjukkan awan berpotensi, pemuatan bahan semai ditargetkan rampung dalam 30 menit sebelum pesawat meluncur,” ujar Tono.
Operasi pemancing hujan ini menggandeng kekuatan penuh dari BRIN, BMKG, BPBD, pengelola bandara, hingga TNI AU yang bersiaga di garis depan. Pantauan radar awan bahkan terus digenjot dari pagi hingga malam hari agar tak ada satu pun peluang hujan yang terlewatkan.
BNPB berharap guyuran hujan buatan ini mampu melumpuhkan titik-titik api (hotspot) sekaligus melenyapkan kabut asap yang mengancam kesehatan warga.
Di sisi lain, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG), Hari Saputro, mengingatkan kunci keberhasilan misi ini ada pada ‘perburuan’ awan yang tepat. Oleh karena itu, pantauan atmosfer nonstop dan keakuratan data meteorologi menjadi penentu utama agar penyemaian garam tepat sasaran dan menghasilkan hujan deras.
“Efektivitas OMC sangat bergantung pada ketersediaan dan karakteristik awan. Jika awan yang sesuai tersedia, hasil operasi bisa jauh lebih optimal,” singkat Hari. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






