benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Penurunan jumlah penumpang angkutan udara di Kalimantan Timur diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat, terutama pekerja sektor pertambangan batu bara.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tersebut mendorong masyarakat beralih ke moda transportasi yang lebih murah, seperti angkutan laut.
Pengamat Transportasi Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kaltim, Tiopan Hendri M Gultom, mengatakan masyarakat cenderung memilih moda transportasi berdasarkan kemampuan finansial.
Ketika biaya perjalanan pesawat tidak lagi terjangkau, penumpang akan beralih ke alternatif yang lebih ekonomis.
“Orang akan mencari biaya transportasi yang paling murah. Ketika kemampuan membayarnya tidak tercapai, mereka akan berpindah,” ujarnya pada Kamis (15/10/2026).
Menurut Tiopan, kondisi ekonomi Kaltim masih banyak ditopang sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.
Namun, tekanan yang terjadi di sektor pertambangan, termasuk PHK, berdampak pada kemampuan masyarakat untuk bepergian menggunakan pesawat.
Peralihan moda transportasi itu terlihat dari penurunan penumpang angkutan udara yang disebut mencapai sekitar 12 persen secara tahunan (year-on-year), sementara angkutan laut justru mengalami pertumbuhan.
“Untuk perjalanan jarak menengah sekitar dua jam, masyarakat bisa beralih menggunakan angkutan laut karena biayanya lebih terjangkau,” jelasnya.
Tiopan menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah.
Dia juga menduga, kebijakan pembatasan aktivitas pertambangan turut memengaruhi pergerakan ekonomi dan transportasi di Kaltim.
Di sisi lain, Tiopan menilai kegiatan atau agenda berskala besar yang mampu mendorong mobilitas penumpang ke Kaltim masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, kegiatan yang berkaitan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi salah satu pemicu pergerakan orang ke wilayah tersebut.
Sementara itu, pertumbuhan kunjungan warga negara asing dinilai berpotensi berkaitan dengan investasi industri hilirisasi di wilayah Kutai Timur, termasuk kawasan Sangatta.
“Bisa jadi sumbernya dari investasi industri hilirisasi di Kutai Timur,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






