benuakaltim.co.id, BERAU — Kondisi kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Berau dalam sepekan terakhir kian menebal dan mengkhawatirkan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menyebut fenomena ini telah berdampak signifikan terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat luas.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan pihaknya bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terus memantau perkembangan situasi ini secara intensif. Pemkab Berau dijadwalkan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) khusus untuk menentukan langkah penanganan lanjutan dan status daerah kedepannya.
“Insya Allah hari ini kami pasang ISPA (Indeks Standar Pencemaran Udara) jam 2 nanti di kantor bupati, hasilnya itu besok. Separah apa dampaknya terhadap kondisi ruang udara kita, itu akan ditentukan besok,” ujar Gamalis saat ditemui, Jumat (18/9/2026).
Gamalis mengimbau masyarakat agar kembali disiplin mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi kegiatan yang tidak mendesak. Ia juga meminta para orang tua untuk memastikan anak-anak tetap belajar dari rumah guna menghindari paparan polusi udara yang memburuk.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Masyhadi Muhdi, memaparkan parameter kualitas udara menunjukkan angka yang drastis dan mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan, parameter PM2,5 yang biasanya berada di angka normal sekitar 25, kini melonjak hingga menyentuh angka 385.
Sementara itu, PM10 juga meroket tajam hingga kisaran 1.400-an.
“Partikel kecil inilah yang nanti kalau kita tidak mawas, bisa masuk ke dalam saluran pernapasan, ke paru-paru, bahkan bisa sampai ke pembuluh darah yang mengakibatkan jantung dan lain sebagainya,” jelas Masyhadi.
Masyhadi menjelaskan, kabut asap yang melanda Berau tidak terlepas dari arah angin yang bergerak dari selatan ke utara.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena wilayah Kalimantan yang tercatat telah melewati hari tanpa hujan selama kurang lebih 30 hari, serta adanya titik panas (hotspot) di beberapa daerah tetangga seperti Kukar, Samarinda, dan Kubar yang memiliki intensitas kebakaran lebih tinggi.
Menanggapi situasi ini, Pemkab Berau saat ini menetapkan status Siaga Darurat. Namun, peningkatan status menjadi tanggap darurat masih akan dievaluasi lebih lanjut seiring dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Pemerintah daerah terus mengoptimalkan koordinasi lintas sektor, termasuk berupaya mendorong pelaksanaan operasi water bombing (teknomologi modifikasi cuaca) melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur guna memadamkan titik-titik api yang sulit dijangkau di kawasan hutan.
“Kami berupaya semaksimal mungkin dengan tim darat yang ada. Namun untuk water bombing, penentunya adalah BNPB, kita semua tentu menunggu itu,” pungkas Masyhadi. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Endah Agustina






