benuakaltim.co.id, BERAU — Kabar baik datang bagi dunia kesehatan di Kabupaten Berau. Sempat menghadapi kendala penutupan, RSUD dr. Abdul Rivai akhirnya mendapatkan angin segar berkat program bantuan alat kesehatan melalui program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ratusan miliar rupiah.
Direktur RSUD dr. Abdul Rivai Berau, Jusram, mengungkapkan bahwa anggaran dana bantuan tersebut sebenarnya sudah berproses sejak tahun 2025 dan mulai direalisasikan secara bertahap pada periode 2026–2027.
Bantuan ini merupakan bagian dari program prioritas Kemenkes dalam pengadaan sarana, prasarana, serta alat kesehatan untuk rumah sakit di daerah.
“Sebenarnya itu sudah ada sejak 2025, tinggal realisasinya di tahun 2026-2027. Sifatnya barang didrop ke kita karena rumah sakit sudah menyiapkan sarana, prasarana, dan SDM,” ujar Jusram saat dikonfirmasi Sabtu (3/10/2026).
Jusram menceritakan, titik balik dari kucuran bantuan ini tidak terlepas dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Berau beberapa waktu lalu.
Sempat tertutup dari daftar prioritas awal, kedatangan Presiden Jokowi memberikan peluang emas bagi RSUD dr. Abdul Rivai untuk kembali membuka ruang komunikasi terkait kebutuhan alat kesehatan mendesak.
Berkat kesempatan tersebut, pihak rumah sakit langsung mengajukan program pengadaan alat kesehatan vital yang selama ini dinanti-nantikan masyarakat Berau.
Melalui program Kemenkes tersebut, RSUD dr. Abdul Rivai kini bersiap menerima berbagai perangkat medis modern untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan lokal. Beberapa alat canggih yang didapatkan meliputi:
• Alat Cath Lab: Untuk kateterisasi jantung.
• Peralatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA): Untuk menunjang layanan kebidanan.
• Alat Kemoterapi: Guna membantu pasien penanganan kanker secara mandiri di Berau.
• Alat Urologi: Untuk penanganan khusus kesehatan ginjal.
Kendati telah mendapatkan gelontoran alat kesehatan senilai kurang lebih Rp150 miliar, pihak rumah sakit tetap mengajukan skala prioritas tambahan kepada Kemenkes, terutama untuk peremajaan alat CT Scan.
Menurut Jusram, alat CT Scan yang ada saat ini sudah berusia 15 tahun dan bahkan sudah tidak beroperasi (discontinue) selama tiga tahun terakhir.
Ia berharap pihak Kemenkes dapat segera mempertimbangkan penambahan alat tersebut mengingat risiko ketersediaan suku cadang yang semakin sulit didapat.
“Yang paling kita perlukan sekarang ini adalah CT Scan karena usianya sudah 15 tahun dan sudah 3 tahun discontinue. Risiko ke depan suku cadangnya sudah tidak ada, ibarat motor kalau sudah 4 tahun setengah mati cari sparepart-nya,” pungkas Jusram. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Ramli






