127 Kasus Karhutla Terjadi di Samarinda, BPBD: 90 Persen Diduga Ulah Manusia

Suasana Karhutla di Samarinda belum lama ini. (FOTO: Aditya Setiawan)

benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui Kota Samarinda di tengah musim kemarau. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat, sejak Januari hingga Rabu (2/9/2026), terdapat 127 kejadian karhutla dengan total lahan yang terbakar mencapai sekitar 211 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menyebut Agustus menjadi periode dengan kasus kebakaran paling tinggi. Meski jumlah kejadian cukup banyak, seluruh titik kebakaran yang dilaporkan berhasil ditangani petugas.

“Sebanyak 127 kejadian, dihitung dari Januari. Yang terbanyak di bulan Agustus dengan luasan kurang lebih 211 hektare. Semuanya tertangani,” kata Suwarso.

Baca Juga :  Kemarau Panjang, Warga Bayur Samarinda Terpaksa Manfaatkan Air Parit

Menurutnya, proses penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, relawan hingga pemerintah provinsi. Ketika kebakaran terjadi secara bersamaan di beberapa lokasi, personel langsung dibagi untuk melakukan penanganan berdasarkan arahan Posko Siaga Darurat.

Kendati demikian, kondisi di lapangan tidak selalu mudah. Sejumlah lokasi kebakaran berada di medan yang sulit dijangkau, terutama kawasan gambut yang membuat titik api dapat berada jauh di dalam permukaan tanah.

Keterbatasan sumber air juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas. Untuk mempercepat penanganan, BPBD mengerahkan armada dan peralatan yang tersedia, termasuk dukungan dari Kodim, BPBD Provinsi Kaltim, relawan dan petugas pemadam kebakaran.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Toko Olahraga di Samarinda Terbakar

“Status tanggap darurat kekeringan di Samarinda sendiri telah ditetapkan sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026 atau selama 14 hari. Selama masa tersebut, BPBD akan memaksimalkan seluruh potensi yang tersedia sambil melakukan evaluasi perkembangan kondisi di lapangan,” jelasnya.

BPBD Samarinda juga memperoleh tambahan mesin pompa yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sejumlah sumber, termasuk void bekas tambang. Peralatan tersebut dinilai membantu dalam memenuhi kebutuhan air saat proses pemadaman berlangsung.

Di sisi lain, Suwarso mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan dampak asap karhutla terhadap kesehatan. Warga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, khususnya di kawasan yang memiliki kepulan asap cukup tebal.

Baca Juga :  Kemarau Panjang, Warga Bayur Samarinda Terpaksa Manfaatkan Air Parit

“Kita sarankan tetap memakai masker kalau keluar rumah di tempat umum. Kalau bisa hindari titik-titik yang asapnya tinggi,” imbaunya.

BPBD Samarinda juga menyoroti dugaan penyebab kebakaran. Dari ratusan kejadian yang tercatat, sekitar 90 persen di antaranya diduga berkaitan dengan aktivitas manusia.

“Patut diduga, 90 persen karena faktor human error,” pungkas Suwarso. (*)

Reporter: Aditya Setiawan

Editor: Ramli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha