7 Hari Hilang di Hutan Meraang, Dua Petani Kampung Tumbit Ditemukan Selamat

SELAMAT:Dua orang petani yang sempat hilang misterius dan membuat panik keluarga, akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi hidup dan selamat. (DOK: DISASTERGRUP)

benuakaltim.co.id, BERAU– Sebuah keajaiban terjadi di lebatnya belantara Hutan Meraang, Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Dua orang petani yang sempat hilang misterius dan membuat panik keluarga, akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi hidup dan selamat.

Kedua korban, Paharudin (57) dan Sawaludin (44), warga Jalan Mojo Labanan Makmur, dilaporkan hilang sejak Kamis (21/5/2026) lalu saat tengah berburu kayu gaharu.

Setelah operasi pencarian besar-besaran yang menegangkan selama empat hari berturut-turut, tim SAR gabungan berhasil menemukan keduanya di seberang Sungai Inaran jarak yang sangat jauh, yakni mencapai 13 kilometer dari pondok awal mereka bertolak.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengonfirmasi keberhasilan evakuasi dramatis yang sempat menguji fisik dan mental tim penyelamat ini.

“Benar, Alhamdulillah, kedua korban atas nama Paharudin dan Sawaludin telah berhasil ditemukan oleh tim gabungan pada Rabu (27/5/2026) kemarin. Kondisi mereka saat ditemukan dalam keadaan hidup dan selamat, meskipun terlihat sangat lemas setelah bertahan hidup di dalam hutan,” ujar Rakhmadi Pasarakan saat dikonfirmasi benuakaltim.co.id, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga :  9 Perusahaan di Berau Dapat Proper Merah, DPRD Nilai Adanya Ketidaksinkronan Data Pusat dan Daerah 

Rakhmadi menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun dari saksi kunci sekaligus keponakan korban, Marzoan (20), mereka bertiga sebenarnya sudah berada di dalam hutan selama 16 hari untuk mencari komoditas kayu gaharu.

Namun petaka terjadi pada Kamis siang pekan lalu sekitar pukul 11.30 WITA. Saat hendak kembali ke pondok peristirahatan, Paharudin dan Sawaludin terpisah dari saksi dan tidak kunjung tiba di pondok.

Saksi sempat melakukan upaya pencarian mandiri yang melelahkan hingga hari Sabtu, namun hasilnya nihil. Karena panik dan kehabisan opsi, saksi akhirnya memutuskan pulang ke kampung Labanan untuk mencari bantuan warga sebelum akhirnya melapor ke Pospol Labanan pada hari Minggu.

Mendapat laporan tersebut, Disdamkarmat Berau langsung menerjunkan tim rescue terbaiknya untuk memimpin operasi pencarian bersama unsur TNI, Polri, relawan Redkar, dan puluhan warga setempat.

Baca Juga :  DLHK Berau Klarifikasi Raport Merah 9 Perusahaan: Penilaian dari Pemerintah Pusat

Pencarian dari hari pertama hingga hari ketiga (Senin hingga Selasa) sempat berjalan buntu dan mencekam. Luasnya medan hutan primer dan minimnya petunjuk di area KM 19 Sta Meraang membuat hasil pencarian terus-menerus nihil.

“Medan di Hutan Meraang sangat lebat dan membingungkan. Pada hari keempat kemarin, tim memperluas radius penyisiran. Berkat kegigihan seluruh unsur di lapangan, korban akhirnya terdeteksi berada di seberang Sungai Inaran. Pengakuan dari korban, mereka murni tersesat dan benar-benar kehilangan arah untuk kembali ke pondok,” ungkap Rakhmadi.

Menurutnya jarak 13 kilometer di dalam hutan belantara merupakan wilayah yang sangat ekstrem untuk ditempuh dengan berjalan kaki tanpa perbekalan logistik yang memadai.

Setelah berhasil dievakuasi menyeberangi sungai, tim gabungan langsung melarikan kedua korban ke Puskesmas Labanan menggunakan ambulans guna mendapatkan penanganan medis dan pemeriksaan kesehatan intensif.

Baca Juga :  Belum Ada Ganti Rugi dari PT BBA, Warga Gunung Sari Bawa Permasalahan ke DPRD Berau

Operasi penyelamatan berskala lokal ini melibatkan sinergi kuat dari berbagai unsur di lapangan, di antaranya:

1. POLRI (Pospol Labanan)
2. TNI (Babinsa)
3. Disdamkarmat Kabupaten Berau (6 Personel)
4. Redkar (4 Personel)
5. Pemerintah Kampung Tumbit Melayu
6. Masyarakat dan pihak keluarga (30 Orang)
7. Ex Tim Rescue Respon Time (Untung Budiono)

Di akhir keterangannya, Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan solidaritas seluruh elemen masyarakat serta aparat yang tidak menyerah melakukan pencarian. Beliau juga mengeluarkan imbauan tegas kepada warga Kabupaten Berau yang sering beraktivitas di dalam hutan.

“Kami mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan, membawa alat komunikasi, penunjuk arah (kompas GPS), serta sebisa mungkin tidak memaksakan diri masuk terlalu jauh ke wilayah vegetasi lebat yang belum dikuasai demi mencegah kejadian serupa terulang kembali,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha