Tokoh Adat Toraja di Berau Yohanes Kombong Berpulang

benuakaltim.co.id, BERAU — Suara riuh rendah dan hembusan napas berat dari beberapa ekor kerbau jantan menyelimuti halaman rumah di Jalan Mangga Dua, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Di sudut lain, puluhan orang sibuk mempersiapkan ritual yang telah diwariskan turun-temurun. Ini bukanlah upacara biasa, melainkan bagian dari Rambu Solo, sebuah ritual kematian agung dalam tradisi masyarakat suku Toraja.

Meskipun tanah rantau Berau berjarak ratusan kilometer dari tanah leluhur mereka di Sulawesi Selatan, kekentalan adat dan aroma magis Rambu Solo sama sekali tidak luntur.

Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Kabupaten Berau, Yan Saranga, yang juga merupakan salah satu tokoh tua pertama di wilayah tersebut, menceritakan bagaimana ritual ini menjadi simbol eratnya kekerabatan mereka.

“Ini adalah tanda penghargaan terakhir dari anak-anak, saudara, dan keluarga terdekat almarhum,” ujar Yan Saranga saat ditemui di sela-sela prosesi adat Selasa (2/6/2026).

Baca Juga :  APAR Cuma Jadi Pajangan, Disdamkarmat Soroti Lemahnya Proteksi Kebakaran di Berau

Menariknya, kerbau-kerbau yang digunakan dalam ritual ini bukanlah beban finansial yang ditanggung oleh satu orang saja.

Demi menyukseskan upacara ini, keluarga besar hingga kerabat rela melakukan patungan (kolektif) untuk membeli kerbau yang harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per ekor.

Untuk prosesi kali ini, terdapat 5 ekor kerbau yang disiapkan, 4 ekor kerbau dipotong dalam rangkaian ritual adat dan 1 ekor kerbau disumbangkan ke rumah ibadah (gereja).

Meski dilaksanakan di tanah rantau, Yan mengakui bahwa ritual yang digelar selama 6 malam ini tidak dilakukan secara penuh seperti di tanah Toraja asli, mengingat adanya penyesuaian tempat dan waktu.

Baca Juga :  Kabel FO Putus Diduga Akibat Galian, Jaringan Internet di Pesisir Berau Terganggu

Tepat di hari kelima, prosesi pemotongan kerbau pun dimulai, sebelum keesokan harinya jenazah almarhum, yang diketahui merupakan bagian dari silsilah keluarga besar Papa Yohanis Kombong, dikebumikan.

Daging kerbau yang dipotong pun tidak dihabiskan begitu saja. Yan Saranga menjelaskan ada sistem pembagian yang adil dan sarat nilai sosial:

1. Sebagian daging dimasak bersama untuk konsumsi para pelayat selama acara ibadah berlangsung.
2. Sebagian lagi dibagi-bagikan secara merata kepada seluruh warga yang hadir, termasuk para tetangga dan anggota warga IKAT Berau.

Rambu Solo bukan sekadar tentang kedukaan atau pamer kekayaan lewat jumlah ternak yang dikorbankan. Bagi masyarakat Toraja, ritual ini adalah magnet magis yang secara otomatis memanggil pulang mereka yang merantau.

“Prosesi Rambu Solo ini memang dapat undangan, tapi secara otomatis (kerabat) pasti datang dari segala penjuru. Apalagi kalau masih ada kekerabatan atau kenal baik, pasti menyempatkan hadir,” tutur Yan.

Baca Juga :  Usai Longsor, Perbaikan Jalur Berau-Bulungan Mulai Dikebut

Di akhir perbincangan, Yan Saranga menegaskan bahwa esensi utama dari seluruh rangkaian ritual yang menguras energi dan biaya ini adalah wujud kebersamaan.

“Ini adalah wujud kebersamaan warga Toraja. Mereka datang untuk bahu-membahu. Meskipun tidak ada timbal balik langsung ke mereka, di sinilah letak persatuan warga IKAT di Kabupaten Berau,” pungkasnya hangat.

Melalui lenguhan kerbau dan tebasan parang ritual, masyarakat Toraja di Berau sekali lagi membuktikan: di mana pun bumi dipijak, di sana adat dijunjung tinggi, dan persaudaraan tak akan pernah mati ditelan jarak. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha