benuakaltim.co.id, BERAU – Aksi pembantaian sadis terhadap puluhan ekor hiu di kawasan wisata bahari Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memicu kecaman keras.
Komunitas penyelam lokal, Berau Divers, mengutuk kelakuan para pelaku yang dinilai merusak ekosistem laut tersebut.
Kasus ini terbongkar setelah aparat Unit Pelaksana Teknis Daerah Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (UPTD KKP3K KDPS) melakukan operasi tangkap tangan.
Petugas mengamankan sejumlah nelayan asal Malaysia dan Kalimantan Utara (Kaltara) yang kedapatan tengah mencincang satwa dilindungi tersebut.
Tragisnya, hiu-hiu itu dibantai hanya untuk dijadikan umpan pancing rawai laut dalam.
Dari tangan para pelaku, petugas menyita barang bukti yang mencengangkan, yakni 30 ekor hiu jenis Tawny Nurse Shark, 8 ekor Blacktip Reef Shark, dan 2 ekor pari langka Giant Shovelnose Ray.
Seluruh satwa tersebut ditemukan dalam kondisi sudah mati tak bernyawa.
Tindakan keji ini sontak menyulut kemarahan para pegiat lingkungan dan komunitas selam di Berau yang selama ini getol menjaga kelestarian biota bawah laut.
Salah satu anggota Berau Divers, Fitriani, menegaskan bahwa aksi tersebut adalah pelanggaran berat terhadap aturan konservasi.
Ia menuntut agar para pelaku dijatuhi hukuman maksimal yang setimpal.
“Hiu-hiu itu objek yang kami cari kalau menyelam, sangat sulit ditemukan di alam liar. Ini malah tega sekali dijadikan umpan pancing,” ujar Fitriani Sabtu (18/7/2026).
Penyelam bersertifikasi ini menambahkan, sama sekali tidak ada alasan pembenaran bagi para nelayan untuk menghabisi nyawa satwa endemik tersebut, sekalipun dengan dalih memenuhi kebutuhan ekonomi atau tangkapan ikan di laut dalam.
“Kalau status hukumnya sudah dilindungi, ya tidak boleh dihabisi. Tidak fair (adil) kalau caranya merusak seperti itu,” tegas Fitriani.
Senada dengan Fitriani, anggota Berau Divers lainnya, Hendra Pranata, turut mengapresiasi kesigapan personel UPTD KKP3K KDPS dalam membekuk para pelaku. Kendati demikian, ia mengingatkan pihak berwenang agar tidak lengah terhadap potensi illegal fishing serupa oleh oknum lain.
Hendra mendesak instansi terkait untuk segera menaikkan intensitas patroli laut dan memperkuat fasilitas pendukung pengawasan di lapangan guna menutup celah bagi para perusak lingkungan.
“Harus ditopang dengan fasilitas pendukung yang memadai untuk pengawasan di titik-titik rawan. Jangan sampai tunggu terlambat dan habitat kita habis,” cetus Hendra.
Ia mengingatkan, langkah pencegahan secara masif jauh lebih krusial daripada sekadar penindakan hukum pasca-kejadian.
Pasalnya, dalam kasus ini, puluhan predator puncak tersebut sudah mati sia-sia.
Hal ini jelas menjadi pukulan telak dan kerugian besar bagi ekosistem laut sekaligus daya tarik pariwisata bawah laut andalan Berau. (*)
Reporter: Georgie Sihaloho
Editor: Ramli






