Teater Anak Inklusi Jadi Sarana Ekspresi Siswa SLB Berau

TEATER: Sebanyak 20 siswa tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan terlibat dalam kegiatan “Waktunya Main; Workshop dan Pertunjukan Teater Anak Inklusi”. (FOTO: GEORGIE/BENUAKALTIM)

benuakaltim.co.id, BERAU – Sebanyak 20 siswa tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan terlibat dalam kegiatan “Waktunya Main; Workshop dan Pertunjukan Teater Anak Inklusi” yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.

Kegiatan tersebut menjadi ruang kreatif inklusif yang memadukan seni teater dan literasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Berau.

Program tersebut digagas oleh anggota Komunitas Literasi Gerobooks Berau, Fillah M Rosyadaa, melalui dukungan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tahun 2026.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi kreatif bagi anak-anak tunarungu jenjang SD, SMP hingga SMA dari SLB Negeri Tanjung Redeb. Tak hanya berfokus pada seni pertunjukan, program ini juga mengedepankan pendekatan inklusif dan literasi dalam proses pembelajarannya.

Ketua pelaksana kegiatan, Fillah M Rosyadaa, mengatakan, seni teater memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak. Selain mengembangkan kreativitas, teater juga mampu membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Baca Juga :  BKPSDM Berau Isyaratkan Tidak Ada Rekrutmen CPNS Tahun Ini

“Seni teater merupakan media pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kreativitas, tetapi juga membantu anak membangun kepercayaan diri dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, teater memiliki sifat terbuka dan fleksibel sehingga sangat berpotensi menjadi ruang inklusif bagi anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.

Namun di sisi lain, geliat teater di Kabupaten Berau saat ini dinilai masih terbatas. Aktivitas teater lebih banyak berjalan melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah dan jumlahnya terus berkurang sejak pandemi Covid-19.

“Anak-anak berkebutuhan khusus dan disabilitas sering kali belum mendapatkan kesempatan yang setara untuk terlibat dalam kegiatan seni pertunjukan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemkab Berau Tegaskan Tak Punya Wewenang Tetapkan Hak Ulayat

Melalui kegiatan “Waktunya Main”, peserta didik tunarungu dari SLB Negeri Tanjung Redeb akan diajak terlibat langsung dalam proses kreatif teater yang menyenangkan.

Kegiatan ini bukan hanya sekadar latihan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk tampil, bermain, dan mengekspresikan diri mereka secara bebas.

“Karena kami meyakini bahwa melalui pertunjukan teater anak akan tercipta perjumpaan yang hangat antara teman dengar dengan teman tuli,” katanya.

Salah satu hal menarik dari program ini adalah penggabungan pendekatan literasi dalam proses teater.

Cerita yang akan dipentaskan berasal dari buku cerita anak bergambar berjudul “Kue Itu Bernama Sarang Semut”, karya penulis lokal Berau, Renata Andini Pangesti, dengan ilustrasi oleh Uswah Aprilia. Cerita tersebut akan dialihmedia menjadi pertunjukan teater anak.

Baca Juga :  Ironi di Tengah Masifnya Aktivitas Tambang, BUMK Sejumlah Kampung di Berau Justru Mati

Dalam prosesnya, peserta tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menghidupkannya melalui gerak, ekspresi, dan peran yang mereka mainkan sendiri.

“Melalui proses alih media ini, anak-anak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menghidupkannya melalui gerak, ekspresi, dan peran yang mereka mainkan sendiri,” jelas Fillah.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sarana pembelajaran yang utuh bagi ABK. Tidak hanya mengembangkan aspek ekspresi diri, tetapi juga kemampuan kognitif, sosial, hingga komunikasi anak dalam satu proses yang saling berkaitan.

Adapun tujuan utama kegiatan tersebut di antaranya menyediakan ruang ekspresi kreatif yang inklusif dan bersifat terapeutik bagi anak-anak, meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi verbal maupun nonverbal, serta mengembangkan kemampuan kognitif, memori, dan keterampilan dalam menyampaikan gagasan maupun perasaan melalui pengalaman bermain peran. (*)

Reporter: Georgie

Editor: Endah Agustina

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha