benuakaltim.co.id, BERAU– Harapan warga Kampung Long Beliu untuk menikmati akses jalan yang layak nampaknya harus kembali tertunda.
Meski usulan perbaikan jalan terus disuarakan setiap tahun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah membuat proyek tersebut urung terealisasi di tahun 2026 ini.
Kepala Kampung Long Beliu, John Patrick Ajang, mengungkapkan kekecewaannya lantaran program peningkatan akses jalan yang menghubungkan antar kampung serta pemenuhan kebutuhan listrik masih menjadi kendala utama bagi warganya.
John menjelaskan, pihaknya telah berulang kali mengajukan perbaikan sisa jalan poros sepanjang 1,5 kilometer yang hingga kini belum tuntas.
“Setiap tahun kami ajukan di Musrenbang untuk penyelesaian sisa jalan poros itu, sekitar 1,5 kilometer lagi. Tapi karena kebijakan efisiensi, sepertinya tahun ini (program tersebut) hilang lagi,” ujar John Patrick, Rabu (15/4/2026).
Padahal, kata dia akses jalan tersebut sangat krusial bagi mobilitas ekonomi warga. “Tidak adanya alokasi anggaran di tahun 2025 dan 2026 membuat pihak pemerintah kampung harus memutar otak untuk mencari solusi alternatif,” ucapnya.
Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah salah satu titik jalan menuju wilayah kampung yang sempat mengalami longsor dua tahun lalu. Meski sudah sempat ditimbun, kondisi jalan tersebut dinilai masih sangat berbahaya dan membutuhkan perbaikan permanen segera.
John menekankan, keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah yang melintasi jalur tersebut setiap hari, kini menjadi taruhan.
“Itu perlu perbaikan segera. Saya sudah koordinasi dengan Kabid di Dinas PUPR, namun kendalanya kembali lagi ke keterbatasan anggaran. Padahal menurut kami itu harus segera diperbaiki karena sangat membahayakan warga, apalagi anak sekolah lewat situ tiap hari,” tegasnya.
Minimnya kucuran dana dari pemerintah daerah memaksa pemerintah kampung untuk melirik bantuan dari pihak swasta atau perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah mereka.
Namun, langkah ini pun tidaklah mudah. John menyebutkan, perusahaan kayu yang ada di sekitar Long Beliu tidak memiliki kapasitas sebesar perusahaan-perusahaan besar di area Berau atau Tanjung Redeb lainnya.
“Sekarang kami berupaya memanfaatkan pihak ketiga seperti perusahaan kalau ada. Itu pun susah, karena perusahaan di sana rata-rata HPH, perusahaan kayu yang kondisinya juga sedang sulit,” pungkas John.
Kini, warga Long Beliu hanya bisa berharap ada kebijakan diskresi atau bantuan darurat agar akses jalan yang menjadi urat nadi kehidupan mereka bisa segera diperbaiki sebelum memakan korban jiwa. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






