benuakaltim.co.id, BERAU – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus bersolek memperkuat sektor pariwisatanya.
Bukan sekadar ajang pamer keindahan alam, pengembangan desa wisata kini menjadi strategi krusial sebagai langkah transisi ekonomi masyarakat menghadapi masa depan pasca-tambang.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan pihaknya tengah masif mendorong desa-desa potensial untuk naik kelas melalui ajang Lomba Desa Wisata yang rutin digelar setiap tahun.
“Lomba ini menyesuaikan dengan petunjuk teknis (juknis) dari pusat dan provinsi. Dulu namanya Lomba Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), sekarang kita fokus pada Lomba Desa Wisata,” ujar Samsiah, Kamis (7/5/2026).
Menurut Samsiah, tidak sembarang desa bisa menyandang status ini. Hingga saat ini, tercatat baru ada 19 desa yang resmi mengantongi SK Desa Wisata di Berau, sementara puluhan lainnya masih dalam tahap usulan.
Beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi antara lain:
* Pengelolaan Daya Tarik: Desa harus mampu mengelola potensi wisata yang dimiliki secara mandiri.
* Paket Wisata & Homestay: Tersedianya fasilitas pendukung untuk kenyamanan wisatawan.
* Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis): Adanya komunitas lokal yang aktif sebagai penggerak.
“Pemenang tingkat kabupaten nantinya akan kami kirim untuk berlaga di tingkat provinsi, hingga puncaknya mengikuti ajang nasional yang kini disebut WIA (Wisata Indonesia Award)—dulu dikenal sebagai Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI),” tambahnya.
Menurutnya langkah serius Pemerintah Kabupaten Berau ini bukan tanpa alasan. Pariwisata diharapkan menjadi ‘sekoci’ ekonomi baru ketika ketergantungan pada sektor pertambangan mulai berkurang.
Samsiah menekankan, desa wisata akan menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal, mulai dari pertumbuhan UMKM, industri kreatif, hingga penyediaan akomodasi.
“Ini adalah persiapan membuka lapangan pekerjaan baru setelah nanti ada transisi dari tambang. Sektor pariwisata bersifat berkelanjutan dan dampaknya langsung dirasakan warga lokal, seperti penyedia bahan pangan untuk rumah makan hingga pengelola homestay,” jelasnya.
Untuk mendukung visi tersebut, Dispar Berau rutin menggelar Jambore Pokdarwis dua kali dalam setahun. Forum ini menjadi wadah bagi lebih dari 40 Pokdarwis di Berau untuk saling bertukar informasi dan mempromosikan paket wisata secara kolektif.
Tahun ini, fokus pelatihan ditekankan pada aspek Pelayanan Prima dan penguatan prinsip Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah, dan Kenangan), atau yang kini dipopulerkan kembali dengan istilah program ASRI.
“Kami ingin anggota Pokdarwis menjadi local hero atau local champion di desanya masing-masing. Mereka adalah ujung tombak yang menyadarkan masyarakat bagaimana menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan,” pungkas Samsiah. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






