benuakaltim.co.id, BERAU – Dinas Perikanan Kabupaten Berau tengah memprioritaskan pengembangan bibit udang windu lokal melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Tanjung Batu.
Menariknya, kualitas bibit hasil produksi lokal ini diklaim jauh lebih unggul dibandingkan bibit yang selama ini didatangkan dari luar daerah, seperti Kota Tarakan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, mengungkapkan kehadiran hatchery (pembenihan) di Tanjung Batu bekerja sama dengan SMK 3 Perikanan telah memberikan angin segar bagi para petani tambak.
Menurut Majid, salah satu keunggulan utama bibit lokal adalah tingkat ketahanan hidup yang lebih tinggi. Selama ini, bibit yang dikirim dari jauh sering kali mengalami stres selama perjalanan.
“Kualitasnya lebih bagus daripada Tarakan. Karena kalau pengiriman jauh, tingkat mortalitas (kematian) bisa mencapai 50-70 persen,” sebut Abdul Majid, Rabu (13/5/2026).
Dengan bibit yang diproduksi di Tanjung Batu, tingkat kematian dapat ditekan secara signifikan saat ditebar di tambak. Hal ini membuat para petani tambak kini lebih melirik bibit lokal, meskipun kapasitas produksinya saat ini masih terbatas.
“Peminatnya Alhamdulillah banyak, sampai hatchery di Tanjung Batu kewalahan dan banyak yang harus di-cancel karena saking banyaknya permintaan,” tambahnya.
Selain fokus pada komoditas udang, Abdul Majid juga menyoroti upaya pemerintah daerah dalam menekan angka inflasi, khususnya pada sektor perikanan. Salah satu komoditas primadona yang menjadi perhatian serius adalah ikan layang.
Untuk menjaga keterjangkauan harga, Dinas Perikanan akan rutin mengadakan pasar ikan murah di Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
“Kita mengendalikan fungsi supaya ikan bisa dibeli masyarakat dengan harga terjangkau. Pasar murah ini diadakan pada waktu-waktu tertentu untuk meredam harga yang tinggi di pasar,” jelasnya.
Di sisi lain, Majid juga menjelaskan mengenai operasional TPI Tanjung Batu yang kini mulai dipusatkan untuk memudahkan kontrol produksi dan jenis ikan yang mendarat. Pihak dinas bahkan memberikan stimulus berupa diskon biaya air dan listrik selama dua bulan bagi para pengguna fasilitas TPI.
Terkait isu keamanan laut, Abdul Majid menegaskan komitmennya untuk melawan praktik penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, seperti pengeboman ikan yang baru-baru ini
terjadi di wilayah tersebut.
“Kami menghimbau gunakanlah penangkapan yang ramah lingkungan. Pengeboman itu merugikan diri sendiri dan merusak ekosistem,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa koordinasi dengan pihak kepolisian dan UPTD wilayah terus diperkuat untuk menindak tegas pelaku penangkapan ikan ilegal. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






