benuakaltim.co.id, BERAU– Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mulai menunjukkan taringnya di sektor kelautan.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono tak lagi hanya bergantung pada sektor pertambangan. Kini budidaya rumput laut di wilayah ini mulai menjadi primadona baru ekonomi warga, bahkan pemasarannya telah menembus pasar internasional.
“Kecamatan Biatan, khususnya di Kampung Muara Karangan, menjadi titik utama pengembangan sektor unggulan ini,” ungkapnya, Rabu (13/5/2026).
Program ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi dan transformasi ekonomi untuk mengalihkan ketergantungan daerah dari sektor tambang ke sektor perikanan dan pertanian dalam arti luas.
“Hingga saat ini, luas lahan budidaya rumput laut di Kecamatan Biatan telah mencapai kurang lebih 60 hektare,” kata dia
Usaha ini dikelola oleh sedikitnya 40 Rumah Tangga Perikanan (RTP) yang aktif melakukan budidaya secara berkelanjutan.
“Keunggulan dari budidaya ini adalah prosesnya yang relatif alami,” bebernya.
Selain hanya membutuhkan bibit di awal tanpa perlu penggunaan pakan tambahan, rumput laut Berau memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi berbagai produk diversifikasi seperti kosmetik, bahan kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga.
Budiono mengungkapkan, hasil produksi rumput laut dari Berau sudah rutin dikirim ke luar negeri.
“Rata-rata kita ekspor dua kontainer atau sekitar 40 ton dalam tiga bulan. Kalau diakumulasi, setahun bisa mencapai 160 hingga 360 ton rumput laut kering,” sebutnya saat ditemui di lapangan.
Negara tujuan ekspor utama saat ini adalah China dan Hong Kong. Namun, pengiriman masih dilakukan melalui jalur transit di beberapa kota besar seperti Tarakan, Surabaya, dan Makassar sebelum menuju negara tujuan.
“Dari sisi ekonomi, harga jual rumput laut cukup kompetitif. Untuk kondisi basah, harga di tingkat lokal berkisar di angka Rp5.000 per kilogram,” tegasnya.
Sementara untuk kondisi kering, Budiono menjelaskan harga melambung menjadi Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram.
“Untuk harga ekspor bisa lebih dari itu, sekitar Rp15.000 untuk kualitas kering, tergantung kesepakatan dengan buyer dari luar,” tambahnya.
Bagi dia guna menjaga kualitas dan produktivitas, pemerintah daerah juga fokus pada peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Tahun ini, sebanyak lima orang pembudidaya lokal diberangkatkan ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Tarakan untuk menjalani pelatihan intensif,” tuturnya.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Berau sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut berkualitas di Indonesia Timur, sekaligus mempercepat transformasi ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






