benuakaltim.co.id, BERAU – Di tengah kepulan asap pekat atau kedalaman sumur yang minim oksigen, detak jantung seorang penyelamat adalah satu-satunya suara yang terdengar.
Bagi personil Disdamkarmat Berau, alat bernama Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA) bukan sekadar tabung udara, melainkan penyambung nyawa.
Meski sarana telah tersedia, tantangan besar masih membayangi. Delapan personil di Mako Induk Kabupaten Berau kini tengah menempa diri melalui pelatihan mandiri yang intensif setiap dua minggu sekali.
Hal ini dilakukan demi memastikan kesiapsiagaan total dalam menghadapi skenario penyelamatan ekstrem.
Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat, mengungkapkan bahwa penguasaan SCBA adalah harga mati bagi petugas.
Alat ini memungkinkan petugas untuk menembus area berbahaya yang mengandung gas beracun, asap tebal, hingga ruang terbatas (confined space).
“Kami latihan mandiri secara rutin. Tujuannya jelas, agar saat ada warga terjebak di gedung yang terbakar, atau evakuasi di dalam sumur yang minim oksigen, personil sudah siap secara fisik dan mental,” ujar Nofian kepada benuakaltim.co.id, Sabtu (9/5/2026).
Saat ini, kekuatan utama terpusat di Mako Induk dengan ketersediaan 8 set SCBA. Latihan otodidak ini mencakup teknik pemakaian cepat (donning), manajemen udara, hingga simulasi penyelamatan korban di ruang gelap dan sempit, termasuk area pabrik dengan ancaman.
Meski rutin berlatih, Nofian mengakui adanya tantangan administratif dan teknis.
Saat ini, para personil yang bertugas belum mengantongi sertifikasi resmi, sebuah pengakuan kompetensi yang sangat krusial dalam standar keselamatan internasional.
Nofian memaparkan visinya untuk memperkuat lini pertahanan penyelamatan di seluruh wilayah Kabupaten Berau.
“Harapan kami ke depan, setiap kecamatan minimal memiliki dua orang personil yang tersertifikasi khusus. Tidak hanya SDM, tapi alatnya juga harus tersedia di sana,” tegasnya.
Langkah ini dianggap krusial mengingat luasnya wilayah Berau dan beragamnya potensi risiko, mulai dari kebakaran pemukiman hingga kecelakaan industri di area pabrik B3.
Dengan adanya tenaga ahli di tiap kecamatan, waktu respon (response time) penyelamatan jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.
Poin Utama Pelatihan SCBA Disdamkarmat Berau:
• Frekuensi: Rutin setiap 2 minggu sekali.
• Fokus Medan: Ruang sempit, sumur, gedung terbakar, dan area terpapar gas beracun (B3).
• Kekuatan Saat Ini: 8 Set alat di Mako Induk dengan 8 personil inti.
• Target Masa Depan: 2 Personil tersertifikasi dan ketersediaan alat di tiap kecamatan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Ramli






