benuakaltim.co.id, SAMARINDA – Pondok Pesantren Istiqomah Muhammadiyah mulai mengembangkan program pembibitan domba sebagai langkah menekan biaya operasional pesantren, khususnya kebutuhan konsumsi santri yang mencapai ratusan juta rupiah setiap tahunnya.
Program breeding domba tersebut juga dinilai memiliki peluang ekonomi yang cukup besar di Kalimantan Timur. Pasalnya, kebutuhan domba di Kaltim mencapai sekitar 18 ribu ekor per tahun, sementara populasi lokal masih sangat terbatas.
Pimpinan Ponpes Istiqomah Muhammadiyah Samarinda, Jaswadi mengatakan pihaknya memilih mengembangkan ternak domba karena dinilai lebih mudah dipelihara dibanding kambing.
“Memelihara kambing agak kerepotan dari sisi kesehatan dan lain sebagainya, barulah kita rintis domba,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).
Saat ini, populasi domba yang dimiliki pesantren telah mencapai sekitar 80 ekor. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah hingga 200 ekor agar mampu membantu menutupi sebagian besar kebutuhan makan santri.
Menurut Jaswadi, biaya konsumsi santri di pesantren mencapai sekitar Rp600 juta per tahun. Karena itu, pengembangan peternakan domba diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus menopang kebutuhan internal pesantren.
Dengan harga domba dewasa yang bisa mencapai sekitar Rp3 juta per ekor di Kaltim, ia optimistis target tersebut dapat tercapai melalui pembibitan yang berkelanjutan.
Selain untuk kebutuhan internal, hasil ternak domba juga mulai dipasarkan ke masyarakat umum. Permintaan datang dari warga yang membutuhkan hewan untuk akikah, kurban hingga konsumsi harian.
“Untuk kurban, untuk akikah, harian begitu. Orang-orang luar juga bisa datang langsung atau pesan,” katanya.
Jaswadi menjelaskan, pengembangan peternakan domba di Kalimantan Timur sebelumnya sempat menghadapi kendala regulasi. Pada 2016, pemerintah daerah sempat memberlakukan larangan masuknya domba ke Kaltim guna melindungi populasi sapi lokal.
Namun kebijakan tersebut kemudian dicabut pada 2020 dengan sejumlah syarat, salah satunya jarak kandang domba minimal tujuh kilometer dari kandang sapi.
“Larangan itu dianulir. Sejak itu kami mulai aktif breeding karena harga domba di sini cukup tinggi akibat pasokan masih banyak dari Jawa,” jelasnya.
Ia menyebut harga domba di daerah asal bisa meningkat hingga tiga kali lipat ketika masuk ke Kaltim akibat biaya distribusi, karantina, hingga risiko kematian selama perjalanan.
“Rp1 juta di sana bisa jadi Rp3 juta di sini, belum risiko kematian di perjalanan dan karantina,” pungkasnya. (*)
Reporter: Aditya Setiawan
Editor: Ramli






