benuakaltim.co.id, BERAU– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau kembali mengagendakan lomba perpustakaan kampung tingkat kabupaten tahun 2026.
Namun, pelaksanaan tahun ini menemui tantangan yang cukup serius terkait kesiapan para peserta dari tingkat desa.
Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah, mengungkapkan jadwal pelaksanaan lomba yang sedianya digelar pada Mei mendatang, terpaksa diundur ke bulan Juni. Penundaan ini dilakukan demi memberikan waktu lebih bagi perpustakaan kampung untuk mempersiapkan diri.
Menurut Rabiatul, salah satu kendala utama yang dihadapi oleh pemerintah kampung saat ini adalah adanya kebijakan efisiensi anggaran yang memengaruhi pola pikir (set mindset) para pengelola.
“Kesiapan karena ada efisiensi inilah yang membuat kampung rata-rata merasa belum siap untuk ikut. Padahal, lomba ini sebenarnya tidak melulu soal dana,” ujar Rabiatul, Kamis (7/5/2026).
Ia menegaskan, biaya besar biasanya baru muncul ketika perpustakaan tersebut menang di tingkat kabupaten dan harus dikirim untuk berkompetisi di tingkat provinsi. Namun, untuk tahap awal, fokus utama adalah pada standar pelayanan dan pengelolaan.
Meskipun menghadapi kendala anggaran, Rabiatul memastikan tidak ada perubahan kriteria penilaian dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setiap perpustakaan kampung wajib memenuhi instrumen digital yang telah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi antara lain:
* Profil Perpustakaan: Data lengkap mengenai profil perpustakaan kampung.
* Akreditasi: Status akreditasi lembaga yang menunjukkan standar pelayanan.
* Koleksi Buku: Minimal memiliki 1.000 judul buku dengan sistem penomoran punggung yang benar.
* Penerapan IT: Penggunaan aplikasi InlisLite dan ketersediaan fasilitas internet.
“Rata-rata pemerintah daerah sudah menyiapkan internet gratis di setiap kampung. Jadi, infrastruktur IT sebenarnya sudah mendukung,” tambahnya.
Menyikapi kekhawatiran kampung soal biaya, Rabiatul mendorong agar pemerintah kampung lebih kreatif dalam menggandeng pihak ketiga. Ia meyakini, sektor swasta yang beroperasi di sekitar wilayah kampung bisa ikut berperan serta dalam pengembangan literasi.
“Pihak swasta bisa berperan di sana. Ini yang terus kami sampaikan ke kampung-kampung agar tetap semangat. Perpustakaan adalah tempat referensi bagi masyarakat untuk membaca, itu yang paling penting,” tutupnya.
Dispusip Berau berharap dengan mundurnya jadwal ke bulan Juni, perpustakaan kampung dapat melakukan persiapan maksimal agar wakil Berau di tingkat provinsi nantinya mampu bersaing secara kompetitif. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






