benuakaltim.co.id, BERAU – Kabar gembira sekaligus mengejutkan datang bagi para pencinta olahraga kayuh di Bumi Batiwakkal.
International Cycling Federation (ICF/ISSI) Kabupaten Berau secara resmi meluncurkan ajang bergengsi Berau Cycling Series (BCS) 2026. Kompetisi ini bukan sekadar balapan biasa, melainkan proyek besar untuk merombak peta prestasi sepeda di daerah.
Program kerja andalan ICF/ISSI Berau ini sukses digelar berkat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta KONI Kabupaten Berau.
Ketua ISSI/ICF Berau, Didi Rahmadi, mengungkapkan BCS 2026 sengaja dirancang untuk mendongkrak minat olahraga sepeda di masyarakat. Lebih dari itu, ajang ini menjadi panggung sakral bagi para pembalap pemula untuk unjuk gigi.
“Dari BCS 2026 nanti, tim ICF/ISSI akan memantau dan menjaring langsung atlet sepeda pemula. Target kami, mereka yang terjaring ini nantinya akan dibentuk menjadi tim sepeda resmi Kabupaten Berau,” ujar Didi Rahmadi, Selasa (26/5/2026).
Didi menjelaskan kompetisi akbar ini tidak hanya selesai dalam satu kali balapan, melainkan dibagi menjadi tiga seri sepanjang tahun 2026.
• Seri 1: Untuk kelas BMX dan MTB akan dilaksanakan di Story Moon. Sementara itu, bagi pencinta kecepatan di kelas Road Bike (RB), balapan akan digeber di kawasan Merancang, Kecamatan Gunung Tabur, pada Minggu, 30 Mei 2026 mendatang.
• Seri 2: Siap dihelat pada bulan Juli 2026.
• Seri 3: Menjadi babak penutup yang akan digelar pada bulan September 2026.
Menurutnya bagi para atlet yang tengah dipersiapkan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), BCS 2026 menjadi menu wajib. Ajang ini menjadi sarana mengukur kemajuan fisik dan taktik sebelum mereka benar-benar berlaga di Porprov Paser pada November 2026 mendatang.
Didi Rahmadi juga menjelaskan format kompetisi ini sengaja diselaraskan dengan rencana jangka panjang ICF Pusat.
“Ke depan, sistem poin ketat akan diberlakukan untuk menilai prestasi riil seorang atlet,” bebernya.
Baginya setiap atlet yang telah memenuhi standar wajib terregistrasi di UCI (Union Cycliste Internationale).
“Mereka yang rajin mengikuti kompetisi dan konsisten naik podium akan menduduki posisi puncak klasemen,” imbuhnya.
Apa lagi Didi menilai peringkat inilah yang menjadi harga mati untuk menentukan siapa yang berhak mewakili kabupaten, provinsi, bahkan menembus ajang paling bergengsi di dunia, Olimpiade.
Di balik ambisi besar tersebut, Didi Rahmadi tidak menampik adanya kerikil tajam dalam pembinaan atlet sepeda di Berau.
Masalah klasik seputar trek balap dan sarana pendukung masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
“Harus diakui, olahraga sepeda ini adalah olahraga yang mahal. Untuk mengadakan satu unit sepeda dengan standar tanding saja membutuhkan biaya yang sangat besar,” aku Didi secara blak-blakan.
Ia menambahkan belum lagi komponen wajib penunjang keselamatan seperti helm khusus, sarung tangan, hingga sepatu tanding yang harganya relatif menguras kantong.
Oleh karena itu, Didi Rahmadi mengetuk hati semua pihak, khususnya para pengusaha lokal dan jajaran pemerintah, untuk memberikan dukungan finansial maupun fasilitas secara penuh demi masa depan emas atlet sepeda Kabupaten Berau. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






