benuakaltim.co.id, BERAU – Kekayaan alam Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Berau, kembali menjadi sorotan.
Kali ini, fenomena penjarahan anggrek endemik di Hutan Tubaan saat masa pandemi lalu memicu langkah taktis dari Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya ribuan anggrek langka akibat tren jual beli bunga yang sempat meledak beberapa tahun lalu. Namun, alih-alih menyerah, Disbudpar justru meluncurkan program inovatif bertajuk Orchid Guardian Trip.
Samsiah menjelaskan, Hutan Tubaan dulunya adalah surga bagi berbagai jenis anggrek endemik Kalimantan. Namun, eksploitasi besar-besaran oleh masyarakat lokal untuk memenuhi permintaan pasar telah merusak ekosistem tersebut.
“Saat pandemi kemarin, tren jual bunga sedang tinggi. Hutan Tubaan dirambah, anggreknya diambil dan dikeluarkan dari hutan untuk dijual. Padahal itu sangat mahal dan langka,” ujar Samsiah dalam keterangannya Kamis (14/5/2026).
Disbudpar mengajak wisatawan tidak hanya untuk sekadar menikmati keindahan alam atau healing, tetapi juga berkontribusi langsung dalam pelestarian.
Konsep utama dari paket wisata ini adalah adopsi anggrek. Wisatawan yang datang akan diajak untuk menanam kembali anggrek-anggrek tersebut ke habitat aslinya.
* Edukasi & Proteksi: Wisatawan akan belajar mengenai jenis-jenis anggrek dan pentingnya menjaga hutan.
* Healing Berdampak: Selain mendapatkan ketenangan di hutan, pengunjung pulang dengan kebanggaan telah membantu konservasi.
* Keterlibatan Pokdarwis: Program ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat yang dipimpin oleh penerima penghargaan Kalpataru.
Saat ini, Disbudpar Berau sedang melakukan simulasi intensif untuk memastikan paket wisata ini siap dilepas ke pasar global. Samsiah menekankan pentingnya peran Pokdarwis dalam menjaga konsistensi program ini agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
“Kami bekerja sama dengan teman-teman pecinta pariwisata dan NGO seperti WWF untuk pendampingan SDM. Target kita adalah konsep edukasi, konservasi, dan perlindungan hutan yang mandiri,” tambah Samsiah.
Jika simulasi ini berhasil, Hutan Tubaan diprediksi akan menjadi destinasi eco-tourism unggulan baru di Berau yang menggabungkan petualangan dengan misi penyelamatan lingkungan. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina






